Transformasi ini dimulai dari cara memproduksi konten. Di ruang kelas, siswa kini berperan sebagai "Operator AI". Mereka tidak lagi membuat materi iklan dari nol secara manual, melainkan mahir memberikan instruksi kepada teknologi AI untuk melakukan riset kata kunci dan menyusun naskah iklan yang persuasif. Bahkan, aset visual yang estetik dan penyuntingan video kini dihasilkan melalui bantuan AI Generator dan fitur otomatisasi, sehingga proses kreatif menjadi jauh lebih cepat namun tetap berkualitas tinggi.
Beralih ke sisi operasional, siswa dilatih menguasai manajemen toko omnichannel. Di masa ini, berjualan hanya di satu aplikasi dianggap tertinggal. Siswa belajar mengelola ekosistem digital yang kompleks, di mana mereka harus mampu menyinkronkan stok barang dan membalas ribuan pesan dari berbagai marketplace sekaligus hanya melalui satu dashboard terpadu. Hal ini memastikan bisnis tetap responsif tanpa kehilangan kendali atas inventaris.
Selain itu, komunikasi bisnis kini sangat bergantung pada kecepatan. Oleh karena itu, siswa dibekali kemampuan membangun sistem layanan pelanggan otomatis. Mereka belajar merancang logika asisten virtual yang mampu menjawab pertanyaan pelanggan selama 24 jam nonstop, memastikan tidak ada peluang penjualan yang terlewatkan hanya karena keterlambatan respon manusia.
Kemampuan teknis ini kemudian diperkuat dengan analisis data yang cerdas. Siswa tidak lagi berhadapan dengan tabel data yang membosankan. Mereka belajar mengubah angka-angka penjualan menjadi dashboard interaktif yang bergerak secara real-time. Dengan keahlian ini, mereka dapat melihat tren pasar dan wilayah potensial secara visual, sehingga keputusan bisnis yang diambil menjadi lebih akurat.
Sebagai pelengkap yang paling krusial, siswa juga dididik untuk menjadi garda terdepan dalam keamanan digital. Di tengah meningkatnya ancaman kejahatan siber, mereka dilatih untuk melakukan audit keamanan akun secara rutin, mengenali berbagai modus penipuan digital, dan menjaga kerahasiaan data pelanggan sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Dengan demikian, lulusan BDP tahun 2026 bukan hanya sekadar pemasar yang andal, tetapi juga profesional digital yang bertanggung jawab dan terpercaya.
Wednesday, 14 January 2026
Mencetak Marketer Berbasis AI dan Automasi
Inovasi Digital dan Kewirausahaan Masa Depan
Memasuki tahun 2026, mata pelajaran Produk Kreatif dan Kewirausahaan (PKK) tidak lagi hanya berfokus pada produksi barang fisik, melainkan pada ekosistem digital berbasis Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, dan solusi perangkat lunak.
Berikut adalah skema praktik untuk jurusan Bisnis Daring dan Pemasaran (BDP) dan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) yang telah disesuaikan dengan kebutuhan industri terkini.
1. Jurusan Bisnis Daring dan Pemasaran (BDP).
Tema:
Hyper-Personalized Digital Agency
Atau, Agensi Digital Hiper-Personalisasi
Atau, Agensi Digital Berbasis Personalisasi Tingkat Tinggi
Hyper-Personalized Digital Agency adalah evolusi (perkembangan) dari agensi pemasaran digital konvensional yang menggunakan Artificial Intelligence (AI), data real-time, dan analisis prediktif untuk menciptakan pengalaman yang sangat spesifik bagi setiap individu secara unik.
Di era ini, pemasaran bukan lagi soal "siapa yang paling banyak memposting", melainkan "siapa yang paling relevan bagi konsumen". Siswa akan berperan sebagai agen pemasaran digital yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk memberikan hasil yang presisi.
Fokus Produk.
Jasa optimasi toko online (TikTok Shop/Shopee) yang didukung oleh AI untuk analisis tren dan pembuatan konten otomatis.
Analisis Berbasis Data.
Menggunakan perangkat lunak analitik untuk memetakan produk apa yang sedang viral di lokasi tertentu.
Produksi Konten Cerdas.
Memproduksi video pendek (Reels/TikTok) di mana AI membantu dalam pengisian suara (voiceover), penyuntingan otomatis, hingga pembuatan naskah yang persuasif.
Periklanan Modern.
Mengelola iklan digital (Ads atsu Advertising) dengan target audiens yang sangat spesifik (mikro-segmentasi).
Live Commerce.
Berlatih melakukan live streaming dengan teknik komunikasi modern dan manajemen stok barang yang sinkron secara real-time.
Hasil Akhir (Output).
Portofolio konten kreatif dan laporan performa bisnis yang mencakup angka konversi serta efektivitas iklan Return on Ad Spend (ROAS).
Secara sederhana, ROAS adalah metrik pemasaran yang digunakan untuk mengukur seberapa banyak pendapatan yang Anda hasilkan untuk setiap rupiah (atau mata uang lainnya) yang Anda habiskan untuk iklan.
Jika Anda menjalankan sebuah Digital Agency, ROAS adalah "rapor" utama untuk menentukan apakah kampanye iklan Anda menguntungkan atau justru merugi.
Rumus Roas, pendapatan dari iklan di bagi biaya iklan.
Contoh Kasus:
Anda mengeluarkan uang Rp1.000.000 untuk iklan di Facebook, dan dari iklan tersebut Anda mendapatkan penjualan sebesar Rp5.000.000.
Ini berarti ROAS Anda adalah 5x (atau ditulis 5:1). Artinya, untuk setiap Rp1 yang Anda keluarkan, Anda mendapatkan kembali Rp5.
2. Jurusan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL)
Tema:
Micro-SaaS & Solusi IoT Sederhana.
Siswa RPL diarahkan untuk menjadi pengembang solusi, bukan sekadar penulis kode. Fokusnya adalah membangun Software as a Service (SaaS) skala kecil yang menyelesaikan masalah nyata di masyarakat.
Fokus Produk: Aplikasi manajemen UMKM (contoh: pencatatan stok otomatis atau sistem pemesanan kantin sekolah berbasis QR Code).
Penemuan Masalah.
Observasi langsung ke lingkungan sekitar atau UMKM untuk menemukan kendala teknis yang mereka hadapi.
Pengembangan MVP (Minimum Viable Product) atau Produk Layak Minimum.
Membangun produk minimal yang fungsional menggunakan teknologi modern seperti Next.js atau Flutter.
Next.js atau Flutter, keduanya adalah framework populer yang digunakan untuk membangun aplikasi, namun mereka memiliki tujuan dan "medan perang" yang berbeda.
Framework adalah kerangka kerja atau template siap pakai yang digunakan oleh pengembang (developer) untuk membangun aplikasi atau website dengan lebih cepat dan terstruktur.
Secara sederhana: Next.js fokus pada web (desktop/mobile), sedangkan Flutter fokus pada aplikasi mobile (Android/iOS).
Desain Pengguna (UI/UX).
UI (User Interface) dan UX (User Experience) adalah dua elemen kunci yang bekerja bersama untuk memastikan produk digital (seperti aplikasi atau website) sukses. Keduanya sering disebut dalam satu napas, tapi sebenarnya memiliki peran yang berbeda.
Singkatnya: UI adalah apa yang Anda lihat, UX adalah apa yang Anda rasakan.
Memastikan tampilan aplikasi tidak hanya cantik, tetapi juga mudah digunakan oleh masyarakat awam.
Peluncuran (Deployment).
Mengunggah aplikasi ke server cloud agar dapat digunakan secara nyata oleh publik.
Presentasi Bisnis (Pitching).
Menjual ide dan produk mereka di depan penguji yang berperan sebagai investor.
Hasil Akhir (Output).
Tautan aplikasi yang aktif dan siap pakai, serta dokumentasi kode yang rapi di platform GitHub.
Strategi Kolaborasi.
The Winning Team (Tim pemenang).
Untuk mensimulasikan dunia kerja yang sebenarnya, kedua jurusan ini harus bekerja sama dalam satu ekosistem. Siswa RPL bertindak sebagai Product Developer (Penyedia teknologi/aplikasi). Siswa Pemasaran bertindak sebagai Growth Hacker (Penyusun strategi peluncuran dan pencari konsumen).

